Get Adobe Flash player

SMP NEGERI 8 DEPOK

Peringatan Hari Kartini 2017

Kegiatan PTK SMPN 8 Depok

Try Out UN

try out

ID Pengguna = Latihan

Kata Sandi = Tryout

  • IMG-20160817-WA0005.png
  • IMG-20160817-WA0006.png
  • IMG-20160817-WA0008.png
  • IMG-20160817-WA0023.png
  • IMG-20160817-WA0025.png
  • IMG-20160817-WA0031.png
  • IMG-20160817-WA0032.png
  • IMG-20160817-WA0033.png
  • IMG-20160817-WA0034.png
  • IMG-20160817-WA0123.png
  • IMG-20160817-WA0128.png
  • IMG-20160817-WA0130.png
  • IMG-20160817-WA0158.png
  • IMG-20160817-WA0163.png
  • IMG-20160817-WA0164.png
  • IMG-20160817-WA0165.png
  • IMG-20160817-WA0168.png
  • IMG-20160818-WA0022.png

Pendidikan Inklusif

 APA SIH “PENDIDIKAN INKLUSI” ITU??

 

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 IV pasal 5 ayat 1 dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan yang bermutu, dalam hal ini termasuk di dalamnya adalah anak yang berkebutuhan khusus (ABK). 

Pendidikan yang tersedia bagi ABK di Indonesia awalnya adalah pendidikan segregasi dan pendidikan integrasi. Berikut penjelasan singkat mengenai hal tersebut :

 

 

a.     Sistem pendidikan segregasi

adalah sistem pendidikan dimana anak berkebutuhan khusus terpisah dari sistem pendidikan anak pada umumnya. Penyelengggaraan sistem pendidikan segregasif dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak pada umumnya.

Pendidikan segregasi adalah sekolah yang memisahkan anak berkebutuhan khusus dari sistem persekolahan reguler. Di Indonesia bentuk sekolah segregasi ini berupa satuan pendidikan khusus atau Sekolah Luar Biasa sesuai dengan jenis kelainan peserta didik. Seperti SLB/A (untuk anak tunanetra), SLB/B (untuk anak tunarungu), SLB/C (untuk anak tunagrahita), SLB/D (untuk anak tunadaksa), SLB/E (untuk anak tunalaras), dan lain-lain. Satuan pendidikan khusus (SLB) terdiri atas jenjang TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB. Sebagai satuan pendidikan khusus, maka sistem pendidikan yang digunakan terpisah sama sekali dari sistem pendidikan di sekolah reguler, baik kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana prasarana, sampai pada sistem pembelajaran dan evaluasinya. Kelemahan dari sekolah segregasi ini antara lain aspek perkembangan emosi dan sosial anak kurang luas karena lingkungan pergaulan yang terbatas.

 

b.    Sistem pendidikan integrasi

istilah integrasi berasal dari bahasa Inggris integrate (kkt.: mengintegrasikan; menyatupadukan; menggabungkan; mempersatukan). Berdasarkan pengertian istilah  tersebut, maka pendidikan integrasi di Indonesia dikenal dengan pendidikan terpadu. Sekalipun ada tiga bentuk keterpaduan yang dapat ditemukan di Indonesia, yaitu keterpaduan antara berbagai jenis keluarbiasaan, keterpaduan antara anak luar biasa dengan anak normal, dan keterpaduan tersamar (sejumlah anak luar biasa yang berada di sekolah-sekolah umum, tetapi tidak memperoleh layanan pendidikan yang layak) (Sunardi, 1995:110), namun berdasarkan  Surat Keputusan Mendikbud No.002/U/1986 tentang pendidikan integrasi bagi anak cacat, Bab I pasal 1 poin (a) mengemukakan: “pendidikan integrasi adalah model penyelenggaraan program pendidikan bagi anak cacat yang diselenggarakan bersama anak normal di lembaga pendidikan umum dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan”.

 

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa program pendidikan integrasi merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan bagi ABK dimana mereka belajar bersama-sama dengan anak normal dalam satu kelas, dengan guru, kurikulum dan pengelolaan yang sama dengan anak-anak pada umumnya di sekolah biasa. Mereka mengikuti pendidikan di sekolah biasa bersama-sama dengan teman-temannya yang normal. Namun demikian, meskipun mereka diintegrasikan ke sekolah biasa, mereka tetap memerlukan layanan pendidikan khusus sesuai dengan jenis dan tingkat kelainannya.

 

Kedua sistem pendidikan tersebut pada dasarnya baik namun dirasa belum cukup tepat untuk memfasilitasi seluruh ABK, hal ini disebabkan oleh :

1.     Tidak semua ABK cocok untuk menjalani pendidikan segregasi (sekolah di SLB).

2.     Tidak semua wilayah memiliki SLB di daerahnya, sehingga bagi ABK yang berada di wilayah-wilayah tertentu (yang tidak ada SLB) justru akhirnya tidak bersekolah.

3.     Pendidikan integrasi cenderung “memaksakan” ABK untuk mengikuti standar bagi peserta didikan reguler (normal). Hal ini justru akan membuat ABK tidak bisa berkembang sesuai dengan potensinya, dan bisa menyebabkan ABK merasa semakin tersisihkan.

 

Ada berbagai pertimbangan lainnya, sehingga akhirnya dibutuhkanlah sistem pendidikan yang berbeda bagi ABK. Oleh karenanya muncullah sistem pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif sendiri bukanlah suatu sistem baru, tetapi system yang sudah lama dikembangkan di dunia internasional. Legitimasi awal bagi pelaksanaan pendidikan inklusi dalam dunia internasional sendiri tertuang dalam Deklarasi Universal Hak Asasi pada tahun 1948. Konferensi ini mengemukakan gagasan mengenai Pendidikan untuk semua (Education for All/EFA) dimana dinyatakan bahwa pendidikan dasar harus wajib dan bebas biaya bagi setiap anak. Konferensi dunia yang khusus membahas EFA kemudian baru diadakan pada tahun 1990 dan berlangsung di Jomtien, Thailand. Para peserta menyepakati pencapaian tujuan pendidikan dasar bagi semua anak dan orang dewasa pada tahun 2000. Konferensi Jomtien merupakan titik awal dari pergerakan yang kuat bagi semua negara untuk memperkuat komitmen terhadap EFA.

Dalam pergerakan EFA, anak dan orang dewasa penyandang cacat adalah salah satu kelompok target. Oelh karena itu, dunia internasional kemudian mengadakan konferensi yang secara khusus membahas pendidikan kebutuhan khusus. Konferensi ini pertama kali diadakan di Salamanca pada tahun 1994 dan yang kedua diadakan di Dakar pada tahun 2000. Keduanya dihadiri oleh Indonesia dalam konferensi dunia Salamanca, pendidikan inklusi ditetapkan sebagai prinsip dalam memenuhi kebutuhan belajar kelompok-kelompok yang kurang beruntung, terpinggirkan dan terkucilkan. Upaya-upaya tindak lanjut bagi pendidikan kebutuhan khusus hingga sekarang diamanatkan kepada UNESCO.

 

Di Indonesia, penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik penyandang cacat atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus.

 

Landasan  pedagogis, seperti yang dijelaskan pada pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jadi, melalui pendidikan, peserta didik penyandang cacat dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah luar biasa. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya.

 

Dari penjelasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan inklusif berarti pelayanan pendidikan untuk peserta didik yang berkebutuhan khusus tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial emosional, linguistik atau kondisi lainnya untuk bersama-sama mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah regular (SD, SMP, SMU, maupun SMK).

 

Demikianlah penjelasan singkat mengenai pendidikan inklusif, pada artikel selanjutnya kita akan membahas tentang jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan proses pembelajaran yang tepat bagi mereka.

 

Quotes of the day :

“If a child can’t learn the way we teach, maybe we should teach the way that they learn” – Ignacio Estrada

 

”Our job is to teach the kids we have, NOT the ones we used to have,  NOT the ones we would like to have, but the one we have RIGHT NOW… ALL OF THEM” – Inclusion… Yours, Mine, Ours.

 

 

Sumber :

1.     http://www.kajianteori.com/2015/12/pengertian-pendidikan-inklusi.html

2.     https://dewinrplb.wordpress.com/2016/03/13/pendidikan-segregasi-integrasi-dan-inklusi/

3.     https://kabarpendidikanluarbiasa.wordpress.com/2012/09/19/konseppendidikan-integrasi/

4.     https://nizhaacheerfullgirl.blogspot.co.id/2014/03/pendidikan-inklusi-sejarah-tujuan-dan.html